Selasa, 17 Maret 2009

Jacobus, Tokoh Percetakan

Penerima Anugerah Teknologi Siddhakretya:
Pura Barutama, Perusahaan Keluarga Merambah Dunia


http://www.ey.com/global/CCR.nsf/Images/90C6DB4B9B1D8CCB482572820039C888/$FILE/EoY_2006_Winner_Trophy_-_Jacobus_Busono.jpg

Dalam peringatan Hari Teknologi Nasional (Harteknas) ke-8 di Istana Negara , Presiden Megawati Soekarnoputri memberikan penghargaan teknologi kepada beberapa lembaga dan individu. Penerima penghargaan itu terdiri atas 21 kategori, satu di antaranya adalah kategori pengembang industri. Masuk dalam kategori ini adalah pengembang teknologi elektronika, telekomunikasi dan informasi, teknologi rekayasa, kedokteran hingga teknologi sastra dan jurnalistik.


Presiden memberikan tiga jenis anugerah dari ke-21 kategori teknologi tersebut. Ketiganya adalah Siddhakretya untuk kategori perusahaan atau industri besar, Kalyanakretya untuk individu/kelompok yang dipandang sebagai inovator, dan Labdhakretya.


Dari sekian perusahaan besar penerima Anugerah Siddhakretya, salah satunya adalah PT Pura Barutama. Perusahaan yang berkantor pusat di Kudus, Jawa Tengah ini adalah perusahaan yang bergerak di bidang percetakan (printing), proses lanjut kertas (converting), kemasan (packaging), rekayasa (engineering), sistem anti pemalsuan terpadu (total security system) dan pembuat kertas uang dan kertas berharga untuk bank.


Bagi Pura, anugerah dari pemerintah kali ini bukanlah satu-satunya penghargaan yang pernah diterimanya.


Dalam bidang teknologi, perusahaan tersebut pernah menerima anugerah teknologi di bidang Agroindustri dari Menteri Riset dan Teknologi tahun 2001 silam. Penghargaan tersebut diberikan karena Pura Barutama berhasil menciptakan mesin pengering padi.


Anugerah teknolgi Siddhakretya kali ini, kian mengukuhkannya sebagai perusahaan pengembang teknologi. Bukan semata industri penghasil produk kertas sebagaimana dikenal luas selama ini.

Presiden Direktur serta Pemilik Pura, Jacobus Busono mengatakan, sejak awal ia memang ingin mengembangkan perusahaannya sebagai perusahaan yang bisa menciptakan teknologi. Dalam menjalankan usahanya, ia lebih senang disebut sebagai pengembang teknologi daripada pedagang (trader). Kenapa demikian? ”Industrialis itu cenderung care about the game. Sedangkan, trader itu care about the money,” katanya. Karena itu, ia lebih senang disebut sebagai industrialis.

Menurutnya, dalam logika aksi dan reaksi yang sering dikatakannya, seseorang yang senang dan tuntas pada pekerjaaannya (aksi), pasti akan mendapatkan reaksi (uang).
Jacobus Busono, sang pewaris generasi ketiga perusahaan yang beralamat di Jalan AKBP Agil Kusumaya, Kudus itu, bersama perusahaannya semula bukanlah siapa-siapa. Sebelum seterkenal sekarang, perusahaan ini cenderung menutup diri terhadap publisitas. Sebelumnya Pura Barutama lebih dikenal hanya sebagai perusahaan kertas dan percetakan.

Ketertutupan itu rupanya memang disengaja oleh Jacobus. Pa-salnya, sebagaimana tokoh percetakan Jerman Hubert Steinberg yang dikaguminya, Jacobus Busono ingin menjadikan Pura Group yang dimilikinya sebagai hidden champions atau jawara yang tak dikenal. Karena itu, puluhan tahun yang lalu, ia tak mau bersentuhan dengan kemewahan publisitas. Ia selalu menghindari pers.

Tapi, sejak Pura Barutama memenangkan tender kertas uang untuk BI dengan menyisihkan puluhan pabrik kertas uang dunia akhir tahun 1999, sang jawara pun tak lagi bisa bersembunyi. Kemenangan itu telah membawa Jacobus ke situasi baru, terkenal dan menjadi incaran pemberitaan berbagai media.

Dari Percetakan Kecil

Sebelum dikelola Jacobus, perusahaan ini didirikan oleh kakeknya yang tak lain adalah pendiri percetakan Ong Djing Tjong Electriche Drukkery, yang berdiri hampir satu abad lampau. Ketika didirikan tahun 1908, kakek dan ayahnya tak pernah bermimpi bahwa percetakannya bakal dikenal seperti sekarang. Saat itu Electriche Drukkery hanyalah satu dari tiga percetakan kecil lain yang ada di Kudus: Jawa Tengah, Sam Hoo Kongso, dan Tjung Hwa.

Sejarah Pura Group adalah sejarah Jacobus Busono. Ketika genap usia 16 tahun, Jacobus merasa telah menemukan dunianya. Demikianlah, keluarga mendukung minat dan bakat remaja penuh warna itu. Maka, dipilihlah Concordance HBS (Hoogere Burger School), sekolah setingkat SMU, yang dikhususkan bagi mereka yang akan meneruskan studi ke luar negeri. Di HBS, secara intensif siswa diberi pelajaran bahasa Belanda, Jerman, Inggris, dan Prancis.

Usai pendidikan di HBS itu, ia meneruskan studi di akademi percetakan ternama di Belanda. Diteruskan ke Fach Hochschule (FH), bidang percetakan dan kertas di Jerman. Ia mendalami fotografi, litografi, separasi warna, dan bidang lain yang terkait erat dengan percetakan yang belum ada di Indonesia saat itu. Di Eropa, Jacobus benar-benar menjalani nasihat ayahandanya dan menjalani studinya dengan penuh riang.

Sekembali di tanah air tahun 1970, Jacobus sadar ilmu yang diperolehnya hanyalah seonggok teori yang tak berarti apa-apa jika tak dipraktikkan. Ia mencoba beradaptasi dengan situasi, cara kerja, system, budaya, bahkan pengupahan. Ia sadar, realitas lapangan inilah sejatinya pengetahuan.

Proses inilah yang telah mempertajam visi dan mata hati Jacobus Busono. Hanya produk-produk berteknologi tinggilah yang mempunyai prospek di masa depan. Ia memancangkan visinya: menjadikan Pura Barutama sebagai percetakan dengan kualitas terbaik. Dalam upaya itu, ia menerapkan inovasi sebagai corporate culture Pura Barutama.

Berpuluh tahun kemudian, mimpi dan cita-citanya menjadi kenyataan. Pura Barutama dengan 8.500 karyawan, kini telah menjadi percetakan terlengkap di Asia Tenggara, dan telah menembus dunia.

Pura Barutama bukan saja dikenal sebagai percetakan, tapi juga proses lanjut kertas (converting), kemasan, rekayasa mesin, dan sistem anti pemalsuan (total security system). Produk-produknya telah banyak dipakai berbagai perusahaan, antara lain oleh Bayer, L’Oreal, Pfizer, Chering, P&G, Tempo Scan Pacific, Sanbe Farma, HM Sampoerna, dan Djarum. Untuk dokumen sekuriti antara lain ijazah, paspor, faktur PKB, surat-surat berharga bank, BPKB, hologram pada pita cukai rokok dan materai, seal pengaman, scratch hologram, dan membuat kertas uang dan mencetak uang Somalia pecahan 1.000 Shilling. Beberapa negara di Afrika lain, kini tengah melakukan penjajagan order cetak uang kertasnya.

Generasi Ketiga

Di tengah prestasi yang diraihnya, Jacobus sesungguhnya ingin menyelipkan pesan kepada dunia bahwa orang Indonesia sejatinya tidak sebodoh seperti yang digembar-gemborkan orang.

”Bangsa ini memiliki etos yang kondusif bagi pengembangan teknologi, yaitu sikap sepi ing pamrih rame ing gawe,” katanya. Etos itu akan menemukan momentumnya pada sikap budaya tepo seliro, santun dan taat. Namun, kondusivitas etos itu sangat bergantung pada pemimpinnya. ”Kita membutuhkan pemimpin yang kuat,” ujarnya.


Tidak sebagaimana mitos sejarah perusahaan keluarga di negara-negara berkembang, nampaknya mitos generasi pertama sebagai pembangun, generasi kedua penikmat dan generasi ketiga penuai kehancuran, tak berlaku di Pura Barutama.


Sebagai pemegang tampuk kepemimpinan Pura Barutama generasi ketiga, Jacobus Busono telah mengepakkan sayap bisnisnya sampai ke manca negara. Berbagai ekspor dilakukan ke lebih dari 40 negara di kawasan Asia, Australia, Timur Tengah, Afrika, Eropa, dan Amerika.
Prestasi ekspor ini telah mengantarkan Pura Barutama meraih anugerah eksportir terbaik bidang non-migas Primaniyarta dari Menteri Perindustrian dan Perdagangan, tahun 2001.

Sumber : sinarharapan

6 komentar:

  1. mudah - mudahan dapat memotivasi masyarakat Indonesia untuk terus berperan dalam kancah bisnis dunia, Amiin.-H-

    BalasHapus
  2. Bebek Goreng H. Slamet Purwokerto:
    Insya Allah.
    Terima Kasih atas kunjungannya.
    Salam

    BalasHapus
  3. Haryonoeraniwidodo:
    Terima Kasih atas apresianya.
    Salam

    BalasHapus
  4. saya sangat tertarik bekerja sama dengan PT.PURA BARUTAMA

    BalasHapus
  5. saya sangat tertarik bekerja sama dengan PT.PURA BARUTAMA

    BalasHapus